Pancasila Sebagai Filter Moral di Tengah Globalisasi

By Redaksi Aksaramuda.com 06 Mar 2026, 14:10:47 WIB Sekitar Kita
Pancasila Sebagai Filter Moral di Tengah Globalisasi

Keterangan Gambar : Pancasila Sebagai Filter Moral di Tengah Globalisasi


Penulis: Bagus Levi Nurjaya

    Globalisasi merupakan suatu kata yang sering dikaitkan dengan kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi yang membuat kita lebih mudah untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber, seperti informasi budaya, bisnis, adat, trend fashion terkini, lapangan pekerjaan, beasiswa, dan lain sebagainya. Semua itu bisa kita peroleh dengan mudah melalui smartphone, laptop dan alat informasi lainnya. Akan tetapi dibalik kemudahannya ada beberapa dampak negatif yang muncul jika kita tidak bijak dalam memfilter serta memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Dampaknya meliputi informasi hoax yang tersebar luas di berbagai media, video konten kreator yang berbau SARA, online shop yang menjual obat-obatan terlarang, serta menyebarnya budaya asing yang dapat melunturkan budaya lokal. Maka dari itu kita sebagai bangsa Indonesia membutuhkan sebuah filter seperti pancasila, yang di dalamnya terkandung 5 dasar yang memiliki arti dan nilai moral tersendiri.

       Nilai moral Pancasila terdapat pada setiap poin pancasila itu sendiri yang bersifat dasar, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, nilai keadilan. Ke-5 nilai moral tersebut dapat digunakan sebagai filter (penyaring) sisi negatif globalisasi yang dapat mengubah dan mengikis moral serta budaya bangsa Indonesia. Lalu bagaimana ke-5 nilai moral dasar itu menjadi filter bagi bangsa Indonesia? Berikut penjelasannya.

Baca Lainnya :

    Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, memiliki makna setiap warga negara Indonesia memiliki kewajiban untuk beriman kepada Tuhan yang maha esa dan memberikan hak kepada warga negara untuk memeluk serta beribadah sesuai kepercayaan. Pada sila yang pertama memberikan kita nilai moral "mengutamakan persatuan dan toleransi di atas perbedaan keyakinan" yang membuat kita lebih bijak dalam menanggapi konten berbau agama yang dapat menimbulkan SARA antara golongan umat beragama, saling menghargai dan menghormati ketika melaksanakan ibadah sesuai ajaran dan kepercayaan masing-masing. Nilai moral ini sangat penting bagi bangsa Indonesia, dikarenakan Indonesia memiliki keragaman suku, bangsa, ras, dengan agama yang berbeda-beda. Dengan adanya nilai moral ini, keberagaman dalam beragama tidak akan menimbulkan perpecahan, seperti pada gambar berikut:

     

    Gambar diatas merupakan salah satu contoh penerapan nilai moral sila pertama. Dimana pada gambar tersebut terdapat masjid dan gereja saling berdampingan, yang terletak daerah pulau Anodan Flores Timur Prov. Nusa Tenggara Timur.

    Sila Kedua Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, memiliki makna kita sebagai manusia harus bersikap adil serta memiliki adab kepada setiap manusia di segala situasi. Moral yang dapat diambil dari sila ke dua lebih berfokus pada nilai kemanusiaan, yakni "manusia harus memanusiakan manusia" Artinya kita sebagai manusia harus saling menghargai tanpa memandang harta, jabatan, suku, agama, ras, golongan serta haknya sebagai manusia untuk hidup dan menjalani kehidupan. Sehingga dengan adanya moral ini pada saat menjelajahi dunia digital, kita bisa terhindar dari pengaruh berbagai konten yang berbau rasis atau SARA, cyber bullying yang sering terjadi pada berbagai platform media sosial seperti Instagram, tiktok, youtube. Dan yang sedang marak akhir-akhir ini ialah kasus konser K-pop yang diadakan di Malaysia pada tanggal 31 Januari 2026 yang di mana ada fansite yang menggunakan kamera profesional untuk mendokumentasikan kegiatan konser K-pop yang diadakan di Malaysia, tetapi penyelenggara konser telah secara tegas melarang penggunaan kamera maupun alat apapun sehingga membuat penggemar dari Malaysia mengecam tindakan fansite tersebut. Meskipun fansite sudah meminta maaf ketenggangan tidak langsung mereda, karena salah satu pengguna asal Korea membela fansite, sehingga kasus yang tadinya sebuah pelanggaran peraturan berubah menjadi cyber bullying, ini terjadi setelah pembelaan oleh pengguna asal Korea membela fansite Korea yang membuat netizen dari berbagai negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia ikut membela Malaysia. Apabila merujuk pada moral sila kedua hal ini sangat tidak dianjurkan, sebab pada kasus cyber bullying pasti banyak melontar kata-kata dan ujaran yang bersifat rasis yang secara tidak langsung melanggar moral serta sila kedua yakni "Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab" karena adab pada poin sila kedua sudah tidak terpakai akibat tersulutnya emosi akibat pembelaan dari penggunaan asli Korea. Maka dari itu moral dan sila kedua ini harus benar-benar dinamakan dalam diri bangsa Indonesia, agar lebih bijak dan kritis lagi dalam menghadapi kasus seperti ini.

    Sila Ketiga Persatuan Indonesia, sila ini memiliki makna mendalam bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki keberagaman suku, bangsa, dan bahasa. Makna dan nilai moral yang dapat kita ambil ialah sebagai bangsa beragam dari berbagai aspek seperti budaya, bahasa, agama, serta suku, jangan saling membeda-bedakan sekaligus merendahkan atau membanggakan asal suku dan bahasa, harus lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, menghargai dan mencintai ragam budaya bangsa Indonesia tanpa membanggakan budaya daerah sendiri. Sehingga apabila nilai moral tersebut telah berhasil tertanam pada diri kita, dampak negatif globalisasi seperti sifat individualisme yang sering muncul di kalangan anak muda bisa diredam, konten budaya yang tidak pantas, seperti cara berpakaian cenderung lebih terbuka atau ketat, serta berias tidak sesuai dengan kodratnya dapat kita hindari sebelum semakin parah.

    Sila Keempat Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Pada sila keempat ini tertuang sebuah makna dan moral untuk bangsa Indonesia "harus selalu mengedepankan musyawarah serta harus bijak dalam menerima dan memberi saran ketika sedang berdiskusi dalam menyelesaikan suatu masalah, tanpa harus terjadi perdebatan". Moral dan makna ini yang harus ditanamkan kepada setiap warga negara Indonesia untuk mengurangi adanya salah paham ketika menggunakan media sosial, karena setiap ada masalah atau salah paham tentang konten yang ada pada media sosial kebanyakan orang akan langsung menghujat tanpa berdiskusi, serta mencari tahu sumber kebenaran dari konten tersebut. Selain itu, sila keempat bisa digunakan untuk memfilter persebaran suatu berita atau konten yang tidak jelas asal usulnya (HOAKS) dengan cara berdiskusi dan bertukar informasi serta pendapat melalui berbagai grup dan platform yang ada di media sosial.

    Sila Kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Makna serta moral yang terkandung pada sila yang kelima ini "bangsa Indonesia harus mengembangkan dan membudayakan perbuatan luhur, seperti gotong royong dan kekeluargaan, menghargai hasil karya orang lain, selalu bersikap adil, dan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban". Moral pada sila kelima ini sepenuhnya menjelaskan tentang pentingnya saling menghargai, bersikap adil tanpa memandang status dan asal. Di tengah globalisas yang membuat segala informasi dan konten yang mudah diakses moral ini penting ditanamkan sejak dini, agar putra-putri penerus bangsa bisa saling menghargai perbedaan, bersikap adil serta menjaga keseimbangan hak dan kewajiban. Apabila moral itu tidak kita tanamkan sejak dini, dikhawatirkan mereka akan hanyut terbawa arus negatif dari globalisasi sehingga akan menimbulkan sifat merendahkan sesama melalui komentar-komentar dunia Maya,dan individualisme, serta dikhawatirkan mereka mengikuti trend yang menurut mereka menarik, padahal sangat merusak terhadap norma dan budaya lokal yang sudah ada. Maka dari itu nilai moral sila kelima penting dan sangat dianjurkan untuk diterapkan sejak dini agar mereka putra putri penerus bangsa Indonesia bisa memfilter hal negatif dari globalisasi serta menjaga keutuhan nilai-nilai luhur, budaya lokal, dan norma yang sudah ada.

    Kesimpulan. Pancasila bukan hanya sekadar dasar negara yang kita ucapkan ketika melaksanakan upacara bendera di sekolah setiap hari senin, tetapi pancasila merupakan panduan nilai moral yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia di era globalisasi, untuk memfilter semua dampak negatif yang bisa merubah dan meruntuhkan nilai luhur serta budaya asli Indonesia.

    Dengan demikian, generasi muda Indonesia bisa terus berkarya, berinovasi, serta menikmati kemajuan teknologi tanpa kehilangan kepribadian bangsa. Globalisasi akan membawa banyak manfaat bagi bangsa Indonesia di bidang teknologi/komunikasi jika kita mampu menerapkan nilai-nilai luhur dan moral Pancasila.

    Sumber/Referensi

    Jamaluddin.(2025). PENDIDIKAN PANCASILA. Purbalingga: EUREKA MEDIA AKSARA.

    Yuhasnil.(2025). PENDIDIKAN PANCASILA DI PERGURUAN TINGGI. Purbalingga: EUREKA MEDIA AKSARA.

    https://www.metrotvnews.com/read/b3JC5oB1-konser-k-pop-di-malaysia-berujung-drama-panas-warganet-korsel-vs-seablings

    https://m.kumparan.com/cah-ikrek-media/peran-pancasila-di-era-globalisasi-23qpHPQvqI5

    https://www.detik.com/bali/nusra/d-7289475/masjid-dan-gereja-berdampingan-simbol-kerukunan-di-ntt

    https://youtu.be/WlEORYJcges?si=dTdTZWFhQIQ5qdon




    Write a Facebook Comment

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    View all comments

    Write a comment

    Loading....



    Temukan juga kami di

    Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.