- Implementasi Teologi al Maun dalam Pemberdayaan Masyarakat
- Aisyiyah dan Pemberdayaan Perempuan: Kiprah Nyata Gerakan Perempuan Muhammadiyah di Abad Kedua
- Timnas Indonesia Pilih Hotel Jauh dari Stadion di Jeddah, Ada Apa?
- Macan Tutul Masuk Hotel di Bandung, Siap Direhabilitasi Setelah Ditemukan Terlantar
- Prabowo Panggil Menhan dan Mendikti Saintek Usai Bertemu Jokowi 2 Jam
- Drama Wasit AFC Bikin Timnas Indonesia Geram! Ini Sikap Timnas Indonesia
- 10 Orang Terkaya Dunia Oktober 2025: Elon Musk Rebut Tahta, Bill Gates Terdepak!
- Siapa Bjorka, Hacker Otodidak 22 Tahun yang Bobol 4,9 Juta Data Bank? Ditangkap Polisi
- Turnamen Logika Matematika: Mahasiswa KKN 29 UMG Gelar Cerdas Cermat untuk Tingkatkan Nalar Siswa
- Inovasi Mahasiswa Pendidikan Matematika: Dua Media Satu Tujuan, Kolaborasi Alat Peraga dan GeoGebra
Implementasi Teologi al Maun dalam Pemberdayaan Masyarakat

Keterangan Gambar : AL-MA’UN Sebagai Gerakan Sosial Masyarakat
Muhammadiyah sejak kelahirannya dikenal sebagai
gerakan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan sosial dan
kemanusiaan. Tidak berlebihan jika Muhammadiyah disebut sebagai pelopor gerakan
Islam berkemajuan yang memadukan dimensi keimanan, keilmuan, dan kemanusiaan
dalam satu kesatuan praksis. Dalam perjalanan sejarahnya, Muhammadiyah tidak
hanya berperan sebagai organisasi dakwah, tetapi juga sebagai kekuatan sosial
yang aktif menghadirkan solusi atas problem kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan
umat.
Di tengah perubahan sosial yang cepat, ketimpangan
ekonomi yang semakin lebar, serta munculnya berbagai krisis kemanusiaan,
gerakan sosial Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan baru. Pola pendekatan
yang dahulu efektif perlu terus dievaluasi agar tetap relevan dengan kebutuhan
masyarakat. Oleh karena itu, revitalisasi gerakan sosial-kemanusiaan Muhammadiyah
menjadi agenda penting yang tidak dapat ditunda. Revitalisasi ini bertumpu pada
penguatan ideologi gerakan, khususnya melalui implementasi Teologi al-Ma’un
sebagai spirit utama dalam pemberdayaan umat.
Teologi al-Ma’un merupakan konsep teologis yang
lahir dari perenungan KH. Ahmad Dahlan terhadap makna Surah al-Ma’un. Surah ini
mengandung pesan moral yang sangat kuat tentang kecaman terhadap orang-orang
yang mendustakan agama karena mengabaikan kepedulian sosial. Bagi Muhammadiyah,
al-Ma’un bukan sekadar teks normatif, melainkan inspirasi gerakan yang menuntut
implementasi nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca Lainnya :
Teologi al-Ma’un menegaskan bahwa keberagamaan
yang sejati harus diwujudkan dalam pembelaan terhadap kaum dhuafa, anak yatim,
fakir miskin, dan kelompok marginal lainnya. Dengan demikian, dimensi sosial
menjadi bagian integral dari ajaran Islam. Pemahaman inilah yang mendorong
Muhammadiyah untuk mengembangkan berbagai bentuk pelayanan sosial sejak awal
berdirinya, sebagai manifestasi iman yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Secara historis, gerakan sosial-kemanusiaan
Muhammadiyah tumbuh dari keprihatinan terhadap kondisi umat Islam yang
terbelakang secara pendidikan dan ekonomi pada masa kolonial. Melalui pendirian
sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga sosial lainnya, Muhammadiyah
berupaya membangun kemandirian umat dan membebaskan mereka dari ketergantungan
struktural.
Gerakan ini terus berkembang seiring dengan
perubahan zaman. Setelah Indonesia merdeka, Muhammadiyah memperluas perannya
tidak hanya pada pelayanan dasar, tetapi juga pada pembangunan sumber daya
manusia dan penguatan masyarakat sipil. Namun demikian, tantangan yang dihadapi
umat saat ini jauh lebih kompleks, sehingga diperlukan pembaruan strategi
gerakan yang lebih berorientasi pada transformasi sosial jangka panjang.
Pada era kontemporer, Muhammadiyah dihadapkan
pada berbagai persoalan sosial yang bersifat multidimensional. Kemiskinan tidak
lagi hanya disebabkan oleh keterbatasan ekonomi individu, tetapi juga oleh
struktur sosial yang tidak adil. Selain itu, persoalan pengangguran,
urbanisasi, degradasi lingkungan, serta krisis moral menjadi tantangan yang
memerlukan pendekatan integratif.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan
digitalisasi membawa peluang sekaligus tantangan baru. Informasi yang mudah
diakses membuka ruang partisipasi masyarakat, namun juga berpotensi menimbulkan
eksklusi digital bagi kelompok tertentu. Dalam konteks ini, gerakan sosial
Muhammadiyah dituntut untuk lebih adaptif, inovatif, dan berbasis data agar
mampu menjawab kebutuhan umat secara tepat sasaran.
Revitalisasi gerakan sosial-kemanusiaan
Muhammadiyah menuntut perubahan paradigma dari pendekatan karitatif menuju
pendekatan pemberdayaan. Bantuan sosial yang bersifat sementara perlu
dilengkapi dengan program-program yang mampu meningkatkan kapasitas dan
kemandirian masyarakat. Inilah esensi dari implementasi Teologi al-Ma’un dalam
konteks pemberdayaan umat.
Pemberdayaan umat dimaknai sebagai proses
sistematis untuk meningkatkan kemampuan individu dan komunitas dalam mengelola
sumber daya, mengambil keputusan, dan menentukan masa depan mereka sendiri.
Muhammadiyah melalui berbagai majelis dan lembaga telah mengembangkan program
pemberdayaan ekonomi, seperti pelatihan kewirausahaan, penguatan koperasi, dan
pendampingan usaha mikro berbasis komunitas. Program-program ini tidak hanya
bertujuan meningkatkan pendapatan, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan
solidaritas sosial.
Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) memiliki peran
strategis dalam implementasi Teologi al-Ma’un. AUM tidak hanya berfungsi
sebagai penyedia layanan pendidikan, kesehatan, dan sosial, tetapi juga sebagai
pusat pemberdayaan masyarakat. Melalui tata kelola yang profesional dan
berorientasi pada nilai-nilai Islam, AUM menjadi model institusi yang
mengintegrasikan aspek spiritual dan sosial.
Di bidang pendidikan, sekolah dan perguruan
tinggi Muhammadiyah berperan penting dalam mencetak generasi yang berilmu,
berakhlak, dan memiliki kepekaan sosial. Sementara itu, di bidang kesehatan,
rumah sakit dan klinik Muhammadiyah berkontribusi dalam meningkatkan kualitas
hidup masyarakat, terutama kelompok kurang mampu. Sinergi antara berbagai AUM
menjadi kunci keberhasilan gerakan pemberdayaan umat secara berkelanjutan.
Revitalisasi gerakan sosial-kemanusiaan
Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari penguatan kader. Kader yang memiliki
pemahaman ideologis yang kuat terhadap Teologi al-Ma’un akan menjadi motor
penggerak perubahan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, proses kaderisasi
perlu diarahkan pada pembentukan kepekaan sosial dan komitmen keumatan agar
mampu mendorong pemberdayaan umat secara berkelanjutan.
Selain penguatan ideologis, kader Muhammadiyah
juga perlu dibekali dengan kemampuan teknis dan kepemimpinan sosial yang
memadai. Keterampilan dalam pengelolaan program, pemanfaatan teknologi digital,
advokasi kebijakan publik, serta penguatan jejaring komunitas menjadi bekal
penting agar kader mampu berperan aktif sebagai agen perubahan. Dengan
kombinasi antara keteguhan ideologi al-Ma’un dan kompetensi praktis, kader
Muhammadiyah diharapkan dapat menghadirkan gerakan sosial-kemanusiaan yang
lebih progresif, solutif, dan berkelanjutan di tengah dinamika masyarakat
modern.
Dalam konteks globalisasi, Teologi al-Ma’un
memiliki implikasi strategis yang semakin luas. Persoalan kemanusiaan tidak
lagi bersifat lokal, tetapi berskala global, seperti krisis pengungsi,
kemiskinan lintas negara, ketidakadilan ekonomi global, dan bencana kemanusiaan
internasional. Muhammadiyah, dengan jaringan organisasi dan amal usaha yang
kuat, memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam isu-isu kemanusiaan
global tersebut. Implementasi Teologi al-Ma’un pada level ini menegaskan bahwa
kepedulian sosial Muhammadiyah melampaui batas geografis dan etnis,
berlandaskan nilai universal kemanusiaan.
Revitalisasi gerakan sosial-kemanusiaan Muhammadiyah
melalui implementasi Teologi al-Ma’un merupakan upaya strategis dalam
memperkuat pemberdayaan umat. Dengan menjadikan nilai-nilai al-Ma’un sebagai
spirit gerakan, Muhammadiyah mampu menghadirkan Islam sebagai agama yang
membebaskan, memberdayakan, dan memanusiakan.
Ke depan, Muhammadiyah diharapkan terus memperkuat
peran sosial-kemanusiaannya melalui inovasi program, penguatan kader, serta
sinergi lintas sektor. Dengan demikian, Muhammadiyah tidak hanya berkontribusi
dalam menyelesaikan persoalan umat, tetapi juga dalam membangun peradaban yang
berkeadilan dan berkemajuan.
Sebagai gerakan Islam modern, Muhammadiyah memiliki
tanggung jawab moral untuk terus menjaga keseimbangan antara dimensi spiritual
dan sosial dalam setiap langkah perjuangannya. Teologi al-Ma’un harus
senantiasa dihidupkan sebagai etos kolektif yang mendorong keberpihakan kepada
kaum lemah, keadilan sosial, dan kemaslahatan bersama. Dengan komitmen
tersebut, gerakan sosial-kemanusiaan Muhammadiyah akan tetap relevan dan
kontributif dalam menjawab tantangan umat, bangsa, dan kemanusiaan global di
masa mendatang.
Penulis: Assyfa' Jasmine Nur Aisyiyah
Mahasiswa Prodi Akuntansi dari Universitas Muhammadiyah Gresik









